Senin, 21 Februari 2011

cinta ini.. jangan berakhir

Jangan berakhir. Karena risalah rindu ini masih terus mengais ceritamu. Tak pedulu jeratan waktu memaksaku bergemeretak mengejar matahari. Terantuk di padang gerah berkubang butiran peluh, menguras waras yang deras luruh kepadamu. Membuatku tak sadar. Kalap diremas cintamu. Menggebu dalam nada yang berulang-ulang. Mematuk tembang bertahtakan cintamu.


Jangan berakhir. Karena aku masih setia mengulur benang cinta yg ku pintal dari serpihan asa tersisa, kasih yang setia menunggu hadirmu, luka bahagia karena tak bosan-bosannya menatap wajahmu, sunyi mencekam terantuk namamu dan debam hasrat untuk tetap berada dalam naungan mata beningmu.


Jangan berakhir. Karena aku akan menunggu hadirmu, kapan pun itu. Jangan berakhir karena aku telah memilihmu sejak tatap pertama tumpah tanpa sengaja di satu senja. Dan sampai kini aku makin terjerat dalam penantian yang mengerang, meregang, mengerontang, terpanggang bara api yang setia ku nyalakan, tak ingin ku padamkan.

Ya, inilah aku, yang selalu berharap risalah cinta, pengharapan, dan penantian untuk satu namamu suatu ketika akan menemui pencapaiannya.

Bukan aku tidak tahu atau pura-pura tahu, apa yang akan ku temui dalam penantian ini. Ketika aku kembali mencintaimu, pada detik itu sebenarnya kakiku telah tiba di rumah peskitan. Mengerang diatas prahara cinta yang tak jua berakhir. Titik temu dua hati yang ku iba-iba belum juga merunut abjad takdir. Terkulaiku dihempaskan asa dari waktu ke waktu. Tetap saja kakiku kukuh percaya. Walau segalanya tampak tak nyata.

Rumah yang kuburu makin tenggelam dihapus akngkungan kabut. Samar kupandang, membabi buta jejakku meratap dijemari pelangi. Kau tempatku mengunyah sejarah penantian. Dimana cahayamu kau sembunyikan? Rumah yang kuhuni makin gelap. Terang susah ku dekap. Gema pesaktian mengintip di tiap inci kata yang terucap dan terpendam dalam puing suara jiwa. Aku makin terluka. Setia menunggu di ujung abjad takdir yang akan jatuh dari langit. Membawa pesan cintamu, untukku, suatu ketika. Entah dimana, entah kapan masanya. Aku akan setia, itu saja!

ya aku akan setia menantimu, kapan pun itu.

Dalam derap gerimis yang pongah menghunjam. Terbuai wajahmu yang menyusup bertubi-tubi. Membawa sebaris kata bahagia yang menenggelamkan nurani diatas pengharapan tak berkesudahan. Tentang rindu kusam, tentang cinta terbuang. Mengutip satu namamu di antara keluh kesah, gundah gelisah, dan lara pesaktian. Masihkah ada secuil senyum di batas penantianku yang kini makin terbata dalam kata-kata, untuk memujimu, mengharapmu, mencintaimu dan menantimu.

yang pasti aku selalu berjalan menujumu :)


karyaa : moammar emka